Pasuruan, baranitapost.com — Kades Gempol ngamuk dalam rekaman CCTV viral berdurasi 3 menit 27 detik yang memperlihatkan dugaan aksi kekerasan di pabrik PT Samiplast, Desa Gempol, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Kamis (02/04/2026). Peristiwa ini terjadi saat sekelompok warga mendatangi lokasi pabrik terkait persoalan pemutusan hubungan kerja (PHK) seorang karyawan non-warga setempat, hingga berujung bentrok.
Video yang beredar luas di media sosial menunjukkan situasi memanas ketika rombongan warga memasuki area pabrik. Dalam rekaman tersebut, tampak seorang pria yang diduga Kepala Desa Gempol berinisial ADS bersikap emosional, hingga melakukan tindakan yang diduga mengarah pada kekerasan terhadap salah satu satu di duga karyawan.
Kejadian ini langsung memicu perhatian publik. Banyak pihak menilai sikap tersebut tidak mencerminkan etika seorang pejabat publik yang seharusnya mengedepankan ketertiban serta penyelesaian masalah secara hukum, terlebih insiden terjadi di lingkungan kerja yang semestinya aman dan kondusif.
Saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, ADS mengakui bahwa sosok dalam video viral tersebut adalah dirinya.
“Iya mas, yang di video rekaman itu memang saya. Tapi saya belum bisa memberikan komentar lebih lanjut,” ujarnya singkat, Senin (06/04/2026).

Salah satu saksi di lokasi yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa kedatangan warga awalnya hanya untuk meminta klarifikasi kepada pihak perusahaan terkait kebijakan PHK. Namun, situasi berubah tegang karena emosi yang tidak terkendali.
“Awalnya hanya ingin klarifikasi, tapi suasana jadi panas dan akhirnya terjadi kericuhan,” katanya.
Informasi dari warga sekitar pabrik berinisial HR menyatakan bahwa, Pihak manajemen PT Samiplast telah melakukan proses pemutusan kontrak kerja sesuai prosedur ketenagakerjaan yang berlaku dan karayawan tersebut bukan warga desa Gempol.
Warga desa Gempol yang bekerja di situ baik baik saja tidak ada masalah..”Kami juga heran dan menyayangkan adanya tindakan yang justru memperkeruh situasi,” ujar HR.
Sementara itu, warga sekitar berharap aparat penegak hukum segera bertindak tegas jika ditemukan unsur pelanggaran hukum dalam insiden tersebut.
“Kalau benar ada kekerasan atau intimidasi, itu bisa masuk ranah pidana. Tidak ada pembenaran untuk tindakan main hakim sendiri,” tegas seorang warga.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Kecamatan Gempol terkait viralnya video tersebut.
Di sisi lain Aparat setempat dikabarkan tengah melakukan penelusuran guna memastikan kronologi kejadian secara menyeluruh.
Desakan publik pun menguat agar kasus ini ditangani secara profesional, transparan, dan sesuai hukum yang berlaku. Insiden ini menjadi pengingat penting bahwa setiap konflik harus diselesaikan dengan kepala dingin dan jalur hukum, bukan dengan tindakan emosional.
Kasus dugaan aksi arogan kepala desa dalam video viral ini menegaskan pentingnya integritas pejabat publik dan penegakan hukum yang tegas. Aparat diharapkan segera mengusut tuntas agar keadilan tercapai dan kepercayaan masyarakat tetap terjaga. bersambung (@nit)






