SURABAYA, baranitapost.com – Bukan teknologi & Klik melainkan kekerasan wartawan, perlindungan Dewan Pers, dan profesionalisme media menjadi tiga pilar utama penentu masa depan pers Indonesia — bukan teknologi, bukan jumlah klik. Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan Dewan Pers, Abdul Manan, menegaskan hal itu saat Stadium General HUT ke-7 KJJT Indonesia di Hotel Sahid Surabaya, Rabu (9/9/2026). Pernyataan ini menjadi peringatan sekaligus arah baru bagi dunia jurnalistik nasional.
Dalam pidatonya, Abdul Manan menyoroti kecenderungan banyak media yang kini terlalu terobsesi pada angka pembaca dan performa algoritma. Padahal, fondasi utama keberlangsungan pers tetap pada keamanan peliput, jaminan hukum, dan kualitas konten yang akuntabel.
“Teknologi hanyalah alat. Klik hanyalah angka. Jika wartawan tidak aman, jika hukum tidak melindungi, jika standar profesi diabaikan — sehebat apa pun platformnya, pers itu rapuh,” ujar Abdul Manan dengan tegas di hadapan ratusan peserta yang hadir.
Ia memaparkan tiga pilar utama secara rinci:
- Pertama : bebas dari kekerasan. Setiap wartawan berhak meliput tanpa ancaman, pemukulan, atau tekanan apa pun dari pihak mana pun.
- Kedua : perlindungan hukum dan kelembagaan. Dewan Pers berperan menjamin kepastian hukum, mekanisme pengaduan yang adil, dan perlindungan sistemik.
- Ketiga : profesionalisme yang konsisten. Kepatuhan pada Kode Etik Jurnalistik, akurasi, dan tanggung jawab publik adalah harga mati.

Abdul Manan menekankan bahwa ketiga hal ini saling berkaitan dan tidak bisa berdiri sendiri. Jika satu pilar runtuh, dua pilar lainnya ikut tergoyang. Tidak ada profesionalisme yang baik tanpa rasa aman, dan tidak ada perlindungan yang bermakna tanpa standar profesi yang jelas.
Baca juga
http://HUT ke-7 KJJT Indonesia Bahas Masa Depan Pers, Hukum dan Informasi
Ia juga menyoroti maraknya praktik jurnalisme abal-abal dan berita bohong yang justru mendapat jutaan klik. Hal ini membuktikan bahwa angka pembaca tidak berbanding lurus dengan kualitas maupun kepercayaan publik.
“Kita tidak sedang berlomba mengumpulkan klik. Kita sedang menjaga kepercayaan masyarakat. Dan kepercayaan itu jauh lebih mahal dari sekadar angka di layar,” tegasnya.
KJJT Indonesia sebagai organisasi yang bergerak di bidang perlindungan dan pemberdayaan wartawan dipuji karena konsisten memperjuangkan ketiga pilar tersebut sejak berdiri tujuh tahun lalu. Stadium General ini menjadi momen penting untuk menyatukan visi seluruh elemen pers.
Hot news
Ketua Panitia Pelaksana menyebutkan bahwa kegiatan ini dihadiri oleh wartawan, akademisi, tokoh masyarakat, hingga perwakilan pemerintah dari berbagai daerah. Harapannya, pesan yang disampaikan dapat meresap ke setiap ruang redaksi di Indonesia.
Peserta yang hadir menyambut baik pernyataan tegas dari Dewan Pers. Banyak yang mengaku lega karena ada penegasan bahwa kemanusiaan dan profesionalisme tetap menjadi prioritas utama, bukan sekadar target penayangan atau keuntungan bisnis.
Abdul Manan juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut menjaga ketiga pilar tersebut. Pers yang sehat bukan urusan wartawan saja, melainkan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha.
Sebagai penutup, ia kembali menegaskan: masa depan pers Indonesia tidak ditentukan oleh kecanggihan teknologi atau seberapa besar trafik yang didapat. Masa depan pers ada di tangan kita — sejauh mana kita melindungi peliput, menjamin perlindungan hukum, dan menjaga profesionalisme tanpa kompromi. (Anita)
























