KEDIRI, baranitapost.com – Tujuh seruan kiai lirboyo dalam pertemuan sejumlah kiai sepuh Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Lirboyo membahas menjelang pelaksanaan muktamar dan menghasilkan proses pemilihan kepemimpinan NU wajib berlangsung demokratis, berakhlak dan bebas dari intervensi. Pertemuan sekitar dua jam tersebut Di Kota Kediri, Rabu (26/8/2026). dipimpin dan dihadiri sejumlah ulama senior.
Di antaranya KH Athoillah Sholahuddin, KH Muadz Thohir, KH Abdullah Ubab Maimoen, KH M Anwar Manshur, KH Abdullah Kafabihi Mahrus serta KH Muhibbul Aman Aly. Kehadiran para kiai tersebut memperlihatkan perhatian serius terhadap proses muktamar.
KH Ma’ruf Amin mengatakan hasil pertemuan dituangkan dalam tausiyah yang ditujukan kepada seluruh pihak terkait Muktamar NU. Muktamirin sebagai pemegang hak utama diminta menggunakan haknya dengan baik dan tidak berada di bawah tekanan ketika menentukan pilihan, termasuk dalam proses AHWA maupun kepengurusan NU berikutnya.
Pesan tersebut juga menyasar panitia dan pelaksana muktamar. Para kiai meminta seluruh tahapan berlangsung kondusif, demokratis, jujur dan sesuai akhlak NU. Pemerintah turut diminta menjaga netralitas serta tidak mencampuri persoalan internal organisasi agar NU dapat menyelesaikannya berdasarkan mekanisme yang telah dimiliki.
KH Muhibbul Aman Aly kemudian memaparkan tujuh poin seruan. Para kiai meminta muktamar menjunjung adat dan akhlak karimah, menjaga kehormatan jamiah, serta menjadikan forum tersebut sebagai ruang musyawarah yang sehat. Peserta juga diminta menggunakan akal sehat dan hati yang jernih untuk memilih pemimpin terbaik.

http://Baca juga Rutan Bangil Salurkan Hak Integrasi, WBP Dapat Cuti dan Bebas Bersyarat
http://Simak juga Ribuan Jemaah Padati Maulid Nabi di Kletek, Wabup Mimik Ajak Warga Guyub
Tujuh garis besar seruan kiai tersebut mencakup :
- Menjaga adat, akhlak dan marwah NU.
- Mengutamakan kemaslahatan serta persatuan jamiah.
- Menolak transaksi, tekanan dan rekayasa.
- Menjamin kebebasan muktamirin.
- Menghormati kemandirian NU.
- Meminta pemerintah menghormati kedaulatan muktamar.
- Menghentikan tindakan yang mengganggu proses muktamar.
Perhatian khusus juga diberikan terhadap kebebasan muktamirin. Para kiai meminta tidak ada pengondisian, manipulasi maupun tekanan yang dapat mengurangi kemerdekaan peserta dalam menyampaikan pendapat dan menentukan pilihan. Prinsip tersebut dinilai penting agar keputusan muktamar benar-benar lahir dari musyawarah yang sehat.
Dalam seruan berikutnya, pemerintah dan kekuatan politik diminta menghormati kemandirian ulama serta kedaulatan muktamirin. Para kiai juga menyampaikan kepercayaan kepada Presiden untuk memastikan pemerintah menghormati prinsip tersebut. Mereka bahkan menyatakan siap menyampaikan langsung kekhawatiran terkait dugaan intervensi jika diperlukan.
Pertemuan Lirboyo pada akhirnya menegaskan satu pesan utama :
Muktamar NU harus berjalan dengan mengutamakan akhlak, musyawarah, persatuan dan kedaulatan peserta.
Para kiai juga mengingatkan pihak yang dinilai mengganggu proses agar menghentikan tindakan tersebut. Kesimpulannya, tujuh seruan itu menjadi pengingat bahwa kualitas muktamar tidak hanya ditentukan oleh siapa yang terpilih, tetapi juga oleh bagaimana proses pemilihannya berlangsung. (Redaksi)











Respon (2)