PASURUAN, baranitapost.com – Doa bersama untuk NKRI dalam Ruwatan Agung Nuswantoro digelar LSM GMBI Jatim melibatkan ratusan peserta, para sesepuh, pemangku adat, dan tokoh agama di Air Terjun Putuk Turno Prigen Kabupaten Pasuruan, Sabtu (22/08). Kegiatan ini menjadi momen doa bersama NKRI untuk memohon ketentraman, kedamaian, serta keselamatan segenap bangsa Indonesia.
Barisan peserta bergerak rapi dari Lapangan Prigen menuju Air Terjun Putuk Truno, lokasi puncak prosesi. Di tengah barisan terbentang bendera Merah Putih sepanjang 40 meter, disertai patung Gatotkaca dan para pinisepuh pemimpin adat yang memimpin perjalanan. Langkah itu bukan sekadar ritual, melainkan lambang persatuan yang melangkah beriringan menuju tujuan bersama.
Sugeng SP, Ketua GMBI Wilayah Teritorial Jawa Timur, membuka acara dengan salam penghormatan lintas agama. Sikap saling menghormati itu menjadi fondasi utama agar kegiatan berjalan harmonis tanpa sekat perbedaan. Ia menekankan: persatuan lahir dari penghargaan atas keberagaman.
“Puji syukur kepada Allah SWT atas berkah berkumpulnya kita di sini,” ujar Sugeng membuka amanatnya. Ruwatan ini bukan sekadar warisan budaya semata, melainkan cermin hati bangsa yang merindukan kebaikan bersama. Harapannya, langkah ini membawa berkah bagi seluruh rakyat Indonesia.

Bolos Jam Sekolah, 9 Pelajar Terjaring Razia Satpol PP Sidoarjo
http://Simak juga KONI Sidoarjo Buka Bursa Ketua, ASN TNI Polri Bisa Bertarung
Ruwatan Agung Nuswantoro diselenggarakan atas niat tulus sebagai wujud tanggung jawab anak bangsa. Organisasi ingin memberi sumbangsih nyata melalui jalan merawat tradisi, mempererat persaudaraan, serta mendoakan kemajuan negara. “Semoga sumbangsih GMBI untuk bangsa dan negara ini bermanfaat,” ucapnya tulus.
Seluruh peserta diajak melangkah dengan khidmat dan penuh rasa syukur. Suasana tenang, tertib, dan penuh penghormatan menjadi kunci agar pesan kebersamaan tersampaikan seutuhnya. “Mari kita jalankan Ruwatan Agung Nuswantoro ini dengan penuh khidmat, dengan penuh syukur,” serunya mengajak.
Rangkaian acara juga diatur dengan tata tertib yang ketat, termasuk perjalanan menuju lokasi serta penetapan waktu posisi hening. Hal ini dilakukan agar setiap detik prosesi bermakna, terhormat, dan berjalan sesuai rencana. Keteraturan adalah wujud penghormatan terhadap sesepuh dan Tuhan Yang Maha Esa.
Para peserta memohon restu dan doa kepada para sesepuh, tokoh agama, serta seluruh masyarakat yang hadir. Doa bersama dipanjatkan agar NKRI senantiasa dilindungi, damai, dan makmur. “Ini adalah tanggung jawab yang harus kita lakukan sebagai anak bangsa terhadap NKRI,” tegas Sugeng.
Tugas besar ini tentu membawa tantangan, namun persatuan adalah kekuatan yang mengatasinya. Ruwatan Agung Nuswantoro diharapkan terus menjadi jembatan ikhtiar lintas elemen bangsa: merawat warisan leluhur sekaligus membangun masa depan negeri yang lebih baik. Semoga Indonesia damai, sejahtera, dan diberkahi selamanya.
Ruwatan Agung Nuswantoro bukan sekadar upacara adat, melainkan bukti nyata bahwa keberagaman adalah kekuatan. Ketika semua elemen bangsa bersatu berdoa untuk satu tujuan—keselamatan NKRI—harapan masa depan yang damai dan sejahtera bukan sekadar mimpi, melainkan ikhtiar yang sedang dijalankan hari ini. (Akbar)










