Gresik,baranitapost.com– Pawang hujan TMMD Gresik mendadak menjadi perhatian warga saat proses pengecoran jalan malam hari di Desa Slempit, Kecamatan Kedamean, Kabupaten Gresik.
Seorang pemuda yang mengenakan seragam Sekolah Dasar (SD) terlihat duduk di atas mobil pick-up pengangkut material cor, Selasa malam (5/5/2026).
Aksi unik itu langsung memancing rasa penasaran masyarakat yang berada di lokasi program TMMD ke-128 Gresik.
Fenomena tersebut terjadi ketika prajurit TNI bersama warga melanjutkan pekerjaan fisik pengecoran Jalan Usaha Tani (JUT) hingga dini hari sekitar pukul 03.30 WIB, Rabu (6/5/2026).
Di tengah aktivitas berat dan suasana malam yang dingin, kemunculan pemuda berseragam SD itu justru menjadi hiburan tersendiri bagi para pekerja.

Warga setempat menyebut aksi itu bukan sekadar candaan biasa. Sebagian masyarakat Desa Slempit masih mempercayai tradisi lama yang berkaitan dengan “pawang hujan”.
Dalam budaya lokal, seseorang yang mengenakan pakaian anak kecil saat pekerjaan pembangunan berlangsung dipercaya menjadi simbol agar hujan tidak turun selama proses berlangsung.
Tradisi tersebut sudah lama dikenal masyarakat pedesaan, terutama ketika ada pembangunan jalan, irigasi, atau pengecoran yang dilakukan pada malam hari.
Warga percaya simbol kepolosan dari pakaian anak kecil dapat membawa suasana tenang sehingga cuaca tetap bersahabat selama pekerjaan berlangsung.
“Kalau di sini itu sudah biasa. Ada yang pakai seragam SD atau pakaian lucu supaya kerja malam tetap semangat dan tidak kehujanan,” ujar Bandy, warga Desa Slempit, Kamis (7/5/2026).
Dzikir Sholawat Kecamatan Tanggulangin, Warga Deklarasi Jaga Kondusifitas
Ia menegaskan sebagian warga memang menganggapnya sebagai tradisi pawang hujan, namun ada juga yang menilai aksi tersebut hanya bentuk hiburan agar pekerja tidak mengantuk saat bekerja hingga dini hari.
Meski tidak memiliki dasar ilmiah, tradisi itu tetap bertahan dan menjadi bagian dari budaya masyarakat desa.
Secara ilmiah, kondisi hujan tetap dipengaruhi faktor atmosfer dan cuaca alam, bukan ritual tertentu.
Namun bagi masyarakat Kedamean, tradisi semacam ini memiliki nilai kebersamaan dan semangat gotong royong yang kuat.
Program TMMD ke-128 Gresik sendiri terus melibatkan kolaborasi antara prajurit TNI dan warga desa dalam pembangunan infrastruktur pedesaan.
Pada malam itu, Satgas TMMD bersama masyarakat bahu-membahu menyelesaikan pengecoran jalan hingga seluruh material semen, pasir, dan batu kerikil habis digunakan.
Kehadiran tradisi pawang hujan di tengah proyek TMMD juga menunjukkan bagaimana budaya lokal tetap hidup berdampingan dengan pembangunan modern.
Warga tidak hanya ikut membantu pekerjaan fisik, tetapi juga membawa nilai-nilai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Fenomena unik ini kini menjadi perbincangan warga sekitar karena dinilai memperlihatkan sisi humanis dalam pelaksanaan TMMD.
Selain membangun jalan desa, program tersebut juga mempererat hubungan prajurit TNI dengan masyarakat melalui suasana kerja yang penuh kebersamaan dan tradisi lokal yang masih dijaga hingga sekarang.






