JAKARTA, baranitapost.com – LPG 3 Kg makin selektif setelah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana memperketat penyaluran LPG bersubsidi agar lebih tepat sasaran. Kebijakan tersebut akan menggunakan data desil dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), sebagaimana disampaikan Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Migas) ESDM Laode Sulaeman di DPR RI, Jakarta Pusat, Rabu (26/8/2026).
Laode mengatakan penentuan kelompok masyarakat penerima LPG 3 kg nantinya tidak hanya mempertimbangkan kebutuhan energi, tetapi juga mengacu pada klasifikasi sosial ekonomi dalam DTSEN. Pemerintah ingin distribusi LPG bersubsidi lebih terarah kepada kelompok yang memang menjadi sasaran kebijakan.
Rencana tersebut muncul di tengah sorotan terhadap akurasi data sosial ekonomi. Laode menyebut Kementerian ESDM akan membahas persoalan tersebut bersama Badan Pusat Statistik (BPS) dan PT Pertamina (Persero). Pembahasan itu menjadi bagian dari tindak lanjut pertemuan Menteri ESDM dan Menteri Keuangan.
Fokus pembahasan pemerintah mencakup :
- Pemanfaatan data DTSEN untuk menentukan penerima.
- Evaluasi kesesuaian data sosial ekonomi.
- Koordinasi ESDM, BPS dan Pertamina.
- Pengendalian konsumsi LPG 3 kg.

Betonisasi Krian Dikebut, Subandi Minta Jalan Cepat Selesai
http://Simak juga Pertalite Bakal Dibatasi, Desil 9–10 Jadi Sasaran Pemerintah
Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan alternatif energi melalui konversi LPG 3 kg ke Compressed Natural Gas (CNG). Kementerian ESDM saat ini menguji coba 17 tabung CNG di lingkungan Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas). Pengujian dilakukan untuk melihat kinerja dan kelayakan penggunaannya sebelum dipertimbangkan lebih luas.
Laode menjelaskan uji coba tersebut masih dalam tahap evaluasi sekitar satu bulan. Pemerintah akan melihat hasil pengujian sebelum menentukan langkah berikutnya. Artinya, penggunaan CNG untuk masyarakat belum dapat dianggap sebagai kebijakan yang sudah berlaku secara luas.
Pengetatan distribusi juga berkaitan dengan tingginya realisasi konsumsi LPG 3 kg. Data Kementerian ESDM mencatat realisasi 2025 mencapai 8,52 juta metrik ton, lebih tinggi dari kuota APBN sebesar 8,17 juta metrik ton. Pada 2024, realisasi mencapai 8,23 juta metrik ton dari kuota 8,03 juta metrik ton.
Untuk 2026, kuota LPG 3 kg ditetapkan 8 juta metrik ton. Namun, Laode memproyeksikan konsumsi hingga akhir tahun dapat mencapai 8,6 juta metrik ton. Proyeksi tersebut menunjukkan adanya potensi kebutuhan yang kembali melampaui kuota yang ditetapkan dalam APBN.
Pemerintah sebelumnya mengakui distribusi LPG 3 kg masih bersifat terbuka sehingga dapat digunakan berbagai kelompok masyarakat. Karena itu, penataan berdasarkan DTSEN dan evaluasi data menjadi langkah yang sedang disiapkan untuk memperbaiki ketepatan sasaran.
Arah kebijakan LPG 3 kg kini bergerak menuju distribusi yang lebih selektif, sembari pemerintah mencari alternatif energi untuk mengendalikan konsumsi subsidi. (Tim)











