Baranitapost.com – Sukabumi . Nizam Syafei terbunuh, bocah 12 tahun asal Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, diduga menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang membawa nama ibu tirinya. Peristiwa tragis yang terjadi pada Kamis malam, 20 Februari 2026, langsung menggemparkan warga dan memicu desakan masyarakat agar aparat bertindak cepat dan transparan.
Korban sempat menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jampangkulon setelah keluarga membawanya dalam kondisi kritis. Namun, tim medis tidak mampu menyelamatkan nyawanya. Luka lebam dan dugaan luka bakar pada tubuh korban memunculkan kesan kuat adanya tindak kekerasan sebelum kematian.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, korban diduga mengalami perlakuan tidak wajar di lingkungan rumahnya. Sejumlah warga mengaku terkejut karena selama ini tidak mengetahui secara pasti kondisi yang dialami Nizam di dalam rumah.
Pihak kepolisian bergerak cepat dengan mengamankan sejumlah barang bukti dan meminta keterangan dari beberapa Saksi, termasuk anggota keluarga terdekat. Proses hukum kini berjalan untuk mengungkap fakta yang sebenarnya.

Otopsi dan Uji Laboratorium Masih Berjalan
Tim forensik dari RS Bhayangkara Setukpa Polri melakukan otopsi terhadap jasad korban guna memastikan penyebab kematian. Pemeriksaan luar dan dalam menemukan beberapa luka bakar di tubuh Nizam. Namun, dokter forensik belum menyimpulkan luka tersebut sebagai penyebab utama kematian.
Petugas menyatakan masih menunggu hasil uji laboratorium untuk mengetahui faktor medis yang berperan dalam kematian korban. Hingga kini, tim tidak menemukan tanda-tanda kekerasan tumpul berat yang secara langsung menyebabkan penyebab pasti kematian.
Kepolisian menegaskan penyidik mengedepankan asas kehati-hatian dan profesionalitas. Aparat mengumpulkan alat bukti secara komprehensif agar tidak terjadi kesimpulan prematur. Penyelidikan mendalam dilakukan untuk memastikan setiap unsur pidana terungkap secara tujuan.
Kasus ini berkembang luas di media sosial setelah beredarnya video kondisi korban saat dirawat di rumah sakit. Penyebaran video itu memicu reaksi emosional masyarakat dan meningkatkan tekanan terhadap aparat penegak hukum.
Polri Dalami Penyelundupan Pasir Timah Ilegal
http://Baca juga Polres Tulungagung Larang Sahur Di Jalan
Desakan Keadilan dan Dampak Sosial
Warga Jampangkulon dan sekitarnya menggelar doa bersama sebagai bentuk empati sekaligus solidaritas. Mereka mendesak aparat menuntaskan perkara ini secara terbuka. Masyarakat juga meminta perlindungan lebih kuat terhadap anak-anak yang rentan menjadi korban kekerasan domestik.
Ayah korban berharap proses otopsi dan penyidikan dapat mengungkap fakta yang sebenarnya. “Kami hanya ingin keadilan untuk anak kami,” katanya dengan suara tertahan.
Kasus dugaan KDRT yang menimpa anak ini menjadi pengingat serius tentang pentingnya pengawasan lingkungan dan peran masyarakat dalam mencegah kekerasan terhadap anak. Pemerhati perlindungan anak menilai kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan aparat desa perlu diperkuat untuk mendeteksi tanda-tanda kekerasan sejak dini.
Tragedi Nizam Syafei tidak hanya menyisakan duka mendalam, namun juga membuka ruang refleksi sosial. Publik kini menunggu hasil resmi penyidikan sebagai dasar penegakan hukum yang adil dan tegas. Keadilan bagi Nizam menjadi tuntutan bersama, sekaligus ujian komitmen aparat dalam melindungi anak dari kekerasan di ruang domestik. (Fandi)






