Sidoarjo, pojokkasus.com – ESI Sidoarjo Gaspol membangun fondasi baru industri esports di Kabupaten Sidoarjo. Pengurus Cabang Esports Indonesia (ESI) Sidoarjo resmi meluncurkan gerakan masif untuk mencetak atlet bermental juara sekaligus mendorong kemandirian ekonomi ekosistem gim lokal. Langkah ini menandai babak baru wajah industri esports Sidoarjo yang tak lagi sekadar mengejar prestasi, tetapi juga menata sistem bisnis berkelanjutan.
Komitmen itu mengemuka dalam Roadshow Ruang Rasa bertajuk NOIS (Nongkrong Inspiratif) dengan tema “Game Sehat, Esports Manfaat”. Ratusan pegiat gim, pengurus komunitas, pelaku usaha kreatif, dan tokoh agama menghadiri agenda tersebut. Forum ini menjadi ruang kolaborasi strategis antara ESI, sektor bisnis, dan elemen masyarakat untuk memperkuat industri esports berbasis karakter dan ekonomi riil.
Ketua Umum ESI Sidoarjo, Julius Ivan, menegaskan bahwa esports telah berkembang menjadi industri karier yang menjanjikan. Ia menyatakan, ESI tidak ingin berhenti pada capaian medali, tetapi membangun sistem pembinaan, pemetaan talenta, dan monetisasi yang jelas. “Esports bukan sekadar hobi. Ini industri masa depan yang harus kita kelola secara profesional,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, ESI Sidoarjo menggandeng Navia Creative House untuk meluncurkan platform digital pemetaan (mapping) player dan talenta esports. Platform ini akan mendata kemampuan, spesialisasi gim, rekam jejak turnamen, hingga potensi komersial para pemain.
Kemandirian Industri dan Revenue Stream Baru
Julius Ivan menekankan pentingnya kemandirian organisasi. Ia menyebut ESI Sidoarjo tidak bisa selamanya bergantung pada dana hibah KONI untuk menjalankan program pembinaan. Menurutnya, organisasi harus memiliki sumber pendapatan mandiri agar ekosistem esports tetap hidup dan berkembang.
“Kami menggandeng Navia Creative House untuk menciptakan sektor bisnis yang riil. Kita tidak mungkin hanya mengandalkan anggaran KONI. Esports Sidoarjo harus mandiri, punya revenue stream sendiri, dan mampu menghidupi ekosistemnya,” tegas Julius.

Founder Navia Creative House, Nataria Iskandar, menyatakan kesiapan mendukung infrastruktur bisnis digital bagi gamer Sidoarjo. Ia menilai banyak talenta lokal belum terpetakan secara sistematis sehingga sulit menembus pasar profesional.
“Navia bekerja sama dengan ESI Sidoarjo untuk membuka peluang bisnis bagi gamer yang ingin serius di industri esports. Ini bukan hanya soal bermain game, tapi bagaimana skill mereka bisa menjadi karier profesional,” ujar Nataria.
Kolaborasi ini mencakup pengembangan manajemen talenta, branding personal, produksi konten, hingga akses ke sponsor dan turnamen skala lebih besar. ESI berharap model ini mampu menggerakkan ekonomi kreatif berbasis komunitas.
Standar Kompetisi Ketat dan Pemerataan Talenta
Selain aspek bisnis, ESI Sidoarjo juga memperketat standar kompetisi untuk menjaga kualitas dan mempertahankan gelar Juara Umum di tingkat regional. Julius Ivan memaparkan sejumlah regulasi baru yang akan diterapkan dalam setiap turnamen resmi.
ESI mewajibkan standar profesional untuk wasit dan tim broadcast guna menjamin kualitas pertandingan. Panitia juga akan menerapkan sistem sanksi tegas berupa kartu kuning dan kartu merah bagi pemain yang melanggar aturan atau bersikap tidak sportif, termasuk perilaku toxic di arena pertandingan.
Di sisi lain, ESI membentuk ESI Point di setiap kecamatan hingga desa. Pengurus tingkat kecamatan akan aktif menjaring talenta dari pelosok agar tidak ada pemain potensial yang terlewat. Strategi ini menargetkan pemerataan akses pembinaan sekaligus memperluas basis atlet esports Sidoarjo.
Penguatan Karakter dan Benteng Moral
Roadshow NOIS juga menghadirkan Ketua RA NU Sidoarjo, Gus Bahron, dan Founder Ruang Rasa, Gus Sholah. Kehadiran keduanya memberi perspektif moral di tengah pertumbuhan industri esports yang pesat.
Gus Bahron mengingatkan peserta agar bijak mengatur waktu bermain. “Gamer jangan sampai berlebihan dan kecanduan. Semua harus seimbang,” pesannya.
Gus Sholah menambahkan bahwa pembinaan mental dan spiritual harus berjalan seiring dengan peningkatan skill teknis. “Esports harus jadi wadah pembinaan mental, bukan perusakan,” ujarnya.
Sinergi antara regulasi ketat ESI, dukungan teknologi Navia Creative House, dan panduan moral dari Ruang Rasa diharapkan menjadi fondasi kuat menuju Ruang Rasa Championship mendatang. Jika konsisten dijalankan, model ini berpotensi menjadikan Sidoarjo sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri esports yang sehat, profesional, dan berkelanjutan di Jawa Timur. (IT)






