Bongkar Dalang Pembobolan Brankas Sidoarjo

Sidoarjo, baranitapost.com – Bongkar  dalang pembobolan brankas di Sidoarjo belum terungkap meski aparat kepolisian telah menangkap lima tersangka pelaku lintas provinsi. Pengungkapan kasus pencurian brankas yang terjadi di Perumahan Taman Pinang Indah, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo itu kini justru memunculkan pertanyaan baru dari pihak korban terkait kemungkinan adanya aktor intelektual yang mengarahkan aksi kejahatan tersebut.

Kasus pencurian brankas ini mencuat setelah Satuan Reserse Kriminal Polresta Sidoarjo mengamankan lima orang yang diduga terlibat dalam aksi pembobolan brankas milik seorang perempuan berinisial IES (43). Peristiwa pencurian terjadi pada Rabu, 21 Oktober 2025 sekitar pukul 13.10 WIB di rumah korban yang berlokasi di Perumahan Taman Pinang Indah Blok E2/12, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo.

Kepolisian kemudian merilis penangkapan para tersangka secara resmi kepada publik pada Rabu (4/3/2026).
Namun bagi pihak korban, keberhasilan aparat menangkap komplotan pembobol brankas tersebut belum sepenuhnya menjawab rasa keadilan. Isman, yang mewakili keluarga korban, menilai proses pengungkapan perkara masih menyisakan sejumlah kejanggalan.

Ia menduga kuat terdapat pihak lain yang berperan sebagai pengarah atau pemberi informasi kepada para pelaku sehingga aksi pencurian dapat dilakukan secara rapi tanpa memicu kecurigaan lingkungan sekitar.

“Cara mereka bekerja terlalu rapi kalau disebut murni inisiatif sendiri. Saya menduga ada yang memberi informasi atau menunjuk lokasi,” kata Isman saat memberikan keterangan kepada media, Jumat (6/3/2026).

Kecurigaan tersebut muncul karena dalam peristiwa pencurian itu tidak ditemukan kerusakan signifikan pada pintu utama maupun pagar rumah korban. Kondisi ini dinilai janggal karena pelaku diduga dapat masuk ke area rumah tanpa menimbulkan tanda-tanda pembobolan paksa.

Menurut Isman, situasi tersebut mengindikasikan bahwa pelaku kemungkinan telah mengetahui secara detail kondisi rumah, termasuk akses masuk yang relatif aman untuk melakukan aksi pencurian.

Korban curiga dalang
Korban pembobolan brankas di Sidoarjo mempertanyakan pengungkapan kasus oleh polisi. Dugaan adanya dalang di balik komplotan lintas provinsi mencuat.

Selain soal dugaan adanya dalang di balik komplotan pembobol brankas, Isman juga menyoroti lambannya proses penyelidikan yang dilakukan aparat penegak hukum.
Ia mengungkapkan bahwa laporan kejadian telah disampaikan kepada pihak kepolisian sejak Oktober 2025, namun perkembangan signifikan baru terlihat beberapa bulan kemudian.

Menurutnya, selama beberapa bulan pertama penanganan kasus tampak berjalan stagnan. Aktivitas pengejaran terhadap pelaku baru terlihat intens setelah kasus tersebut ramai diberitakan media dan menjadi sorotan publik.

Isman bahkan menyebut informasi mengenai keberadaan salah satu pelaku yang sempat melarikan diri dari Medan menuju Sidoarjo sebenarnya sudah diketahui sekitar sepekan setelah kejadian berlangsung. Namun proses penangkapan baru dilakukan beberapa bulan kemudian dengan alasan kesulitan mengumpulkan alat bukti.

Tak hanya itu, pihak korban juga mempertanyakan keberadaan barang bukti yang hilang dalam aksi pembobolan brankas tersebut.

Dalam peristiwa tersebut, korban dilaporkan kehilangan sejumlah aset berharga, termasuk perhiasan emas serta dokumen penting berupa sertifikat kepemilikan. Hingga kini, menurut Isman, belum ada perkembangan berarti terkait upaya pelacakan barang-barang tersebut.

Ia menyayangkan keterangan para tersangka yang menyebut emas telah dijual habis dan sertifikat dibuang ke sungai diterima begitu saja tanpa penelusuran lebih lanjut oleh penyidik.

“Kalau emas dijual, pasti ada jalurnya. Harusnya bisa ditelusuri ke mana dijual dan siapa penadahnya,” ujarnya.
Selain itu, Isman juga menyoroti kurangnya transparansi komunikasi antara penyidik dan pihak keluarga korban. Ia mengaku sering kesulitan mendapatkan informasi terbaru mengenai perkembangan kasus yang sedang ditangani kepolisian.

Menurutnya, keluarga korban biasanya baru mengetahui perkembangan perkara setelah secara aktif menanyakan langsung kepada penyidik yang menangani kasus tersebut.
Situasi tersebut, kata Isman, menimbulkan tekanan psikologis tersendiri bagi keluarga korban yang hingga kini masih berupaya memulihkan diri dari kerugian materiil maupun trauma akibat peristiwa tersebut.

Ia juga menyinggung adanya perbedaan keterangan dari internal kepolisian terkait motif para pelaku. Dalam satu versi, para tersangka disebut menerima bayaran sekitar Rp20 juta per orang untuk melakukan aksi pembobolan. Namun versi lain menyebut mereka merupakan residivis yang memilih target secara acak.

Bagi Isman, klaim bahwa rumah korban dipilih secara acak dinilai sulit diterima secara logika mengingat pola operasi pelaku yang sangat terstruktur.
Karena itu, ia berharap proses penyidikan dapat berjalan lebih transparan, mendalam, dan menyentuh seluruh pihak yang terlibat, termasuk kemungkinan adanya aktor intelektual di balik komplotan pembobol brankas lintas provinsi tersebut.

Ia juga meminta pimpinan kepolisian melakukan pengawasan ketat terhadap proses penanganan perkara agar kepercayaan publik terhadap penegakan hukum tetap terjaga.

“Kasus besar seperti ini harus ditangani secara serius dan terbuka supaya masyarakat tetap percaya pada penegakan hukum,” kata Isman.

Di sisi lain, ia juga mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dalam melindungi aset pribadi, misalnya dengan memanfaatkan kamera pengawas (CCTV) atau sistem keamanan digital untuk meminimalkan risiko kejahatan serupa. (Tim)